Selasa, 19 Mei 2009

Pendidikan yang Memb[p]erdayakan?

Sahabat Berbagi yang luar biasa, apa kabar Anda semua? Semoga rahmat dan karunia Allah SWT senantiasa tercurah pada kita. Amin.

Sahabat Berbagi, di bulan-bulan ini, para orang tua yang memiliki anak yang bersekolah formal dan duduk di kelas akhir di masing-masing jenjang pendidikan (dasar, menengah, atas) tentu tengah berada dalam kondisi harap-harap cemas. Detak jantung pun serasa lebih cepat dari biasanya. Ya. bulan April-Mei-Juni memang identik dengan masa akhir studi berupa ujian akhir. Dan sejak beberapa tahun belakangan, pemerintah melalui departemen pendidikan telah membuat sebuah terobosan berupa ujian akhir yang distandarkan secara nasional.

Sejatinya, tidak ada yang salah dengan upaya membuat standarisasi pendidikan nasional. Akan tetapi, realitas yang kini terjadi adalah kesan bahwa Ujian Nasional (UN) menjadi momok menakutkan bagi siswa, dan sudah barang tentu orang tua. Buktinya, banyak orang tua siswa yang resah kala UN menjelang. Belum lagi fenomena siswa yang ‘tiba-tiba’ menjadi rajin mengasah spiritualnya dengan kegiatan doa bersama, istighotsah, dan lain sebagainya. Saking khawatirnya para orang tua, bahkan sampai ada yang memproteksi, secara berlebihan, aktivitas anak jelang pelaksanaan UN; tidak boleh keluar rumah, nonton tivi, dan sebagainya. Suasana ‘mencekam’ yang jauh dari kondusif untuk menumbuhsuburkan potensi siswa tersebut. Bahkan tidak sedikit yang mengatakan bahwa konsep UN tidak adil, karena seolah menafikan proses belajar siswa selama bertahun-tahun, yang hanya ditentukan oleh masa 3 hari ujian. Tak ayal UN pun menjadi perbincangan hangat dan perdebatan sengit.

Sahabat Berbagi, sejatinya, kalau kita mau mengkaji hakikat pendidikan jelas bahwa model pendidikan yang saat ini berjalan di negeri kita adalah pendidikan yang sangat mengabaikan sisi keragaman potensi siswa. Standarisasi yang terjadi lebih pada pengkerdilan potensi siswa. Alih-alih memberdayakan potensi siswa, yang terjadi malah memperdayakan. Sungguh naif.

Belum lagi kalau mau ditilik dari perspektif anak. Saat ini anak lebih sering dijadikan obyek, ketimbang subyek pendidikan. Di setiap jenjang pendidikan anak nyaris tidak dilibatkan sama sekali dalam pemilihan sekolah. Tak jarang sampai pilihan kegiatan ekstra kurikuler pun jadi domain dominan orang tua. Jadilah anak “hidup” untuk “sekolah”. Pagi, sekolah formal (fullday), sore ikut LBB, Malam kursus ketrampilan. Terbayang penat dan jenuhnya anak dengan aktivitas harian, yang sejatinya, kalau boleh memilih mereka akan memilih lebih banyak di rumah, bermain dengan kawan-kawan sebayanya. Belum lagi ketika masa ujian sekolah, baik ujian tengah semester ataupun ujian akhir. Anak lebih banyak dituntut untuk ‘prestasi akademik’ oleh kita, orang tuanya. Harus dapat nilai A lah, padahal itu hanya nilai artifisial yang kadang tidak ada korelasinya sama sekali dengan nilai sejati dalam kehidupan.

Sahabat Berbagi, itu mengapa terkadang yang terjadi adalah jebakan nilai-nilai artifisial tersebut. Anak tidak diajari untuk memahai hakikat nilai, mereka hanya sibuk mengejar angka-angka tanpa memahai makna. Ini sungguh menyedihkan. Karena buntutnya, generasi masa depan bangsa kita hanya generasi yang berorientasi pada nilai-nilai palsu dan buatan.

Sahabat Berbagi, mari kita renungkan bersama, adakah kita termasuk orang tua yang terjebak dalam tuntutan nilai-nilai palsu tadi? Mari introspeksi diri, demi generasi masa depan bangsa yang lebih berdaya.

Wallahu a’lam bisshowwab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar