Sahabat Berbagi yang luar biasa, apa kabar Anda semua? Semoga rahmat dan karunia Allah SWT senantiasa tercurah pada kita. Amin.
Sahabat Berbagi, Stephen Covey dalam the 8th Habit mendefinisikan kepemimpinan sebagai seni untuk memberdayakan. Dalam manuskripnya tersebut, Covey juga membagi peran kepemimpinan menjadi 4 peran: panutan, perintis, penyelaras, dan pemberdaya. Salah satu indikator pemimpin yang memberdayakan adalah munculnya kegairahan yang luar biasa pada orang-orang yang dipimpinnya, sehingga gairah itu menjadi energi yang memberdayakan potensi yang mereka miliki.
Sahabat Berbagi, saya coba cuplikkan sepenggal kisah wafatnya baginda Nabi Muhammad SAW. Kisah ini bisa dilihat dalam buku Sirah Nabawiyah, karya Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfury. Saat itu, para sahabat terkemuka sangat terpukul mendengar dan mendapatkan kenyataan bahwa sang rasul tercinta, guru, sahabat, pemimpin mereka, Muhammad SAW telah tiada. Ya. para sahabat sangat terpukul. Bahkan, seorang sahabat sekelas Umar bin Khattab mengekspresikan kesedihannya dengan berlebihan. Umar sambil menghunus pedangnya, dengan lantang berkata, “siapa yang mengatakan Muhammad SAW telah meninggal, akan aku penggal kepalanya.”
Sahabat Berbagi, Para sahabat tersebut, termasuk Umar, benar-benar dalam kondisi yang sangat emosional hingga kehilangan akal sehat.
Saat itu hanya sedikit sahabat yang mampu mengendalikan emosinya, salah satunya adalah Abu Bakar Asshiddiq. Khalifah pertama ini kemudian menenangkan Umar dan para sahabat yang begitu emosional dengan berkata, “Barang siapa yang (selama ini) menyembah Muhammad SAW, maka ketahuilah sesungguhnya Muhammad (kini) telah meninggal. Dan barang siapa yang (selama ini) menyembah Allah SWT, maka ketahuilah sesungguhnya Allah SWT akan selama hidup dan tiada akan pernah mati.” Kemudian Abu Bakar Menyitir Al Qur’an Surat Ali Imron ayat 144. Ucapan Abu Bakar ini sontak menyadarkan para sahabat, bahwa mereka salah dan telah terjerumus pada kondisi yang sangat emosional. Kisah yang terjadi pada masa rasulullah SAW itu, menggambarkan bahwa, manusia punya potensi untuk melakukan kultus dan penghambaan kepada sesama. Padahal ini sangat berbahaya. Karena dapat melunturkan nilai-nilai akidah kita sebagai muslim.
******
Dalam konteks kekinian, termasuk di pemilu 2009 yang akan kita jalani ini, kita mendapatkan betapa masih banyak calon pemimpin kita yang terjebak pada upaya mengkultuskan dirinya. Terlebih masyarakat negeri ini yang masih kental budaya patron-klien. Bahkan ada sebuah adagium dalam bahasa jawa yang berbunyi “pejah gesang ndherek” (pengikut hidup-mati). Kondisi ini jelas sangat berbahaya, karena sang pemimpin menjadi sangat berpengaruh, semua perkataannya dipatuhi tanpa reserve. Tak ayal pengikutnya menjadi sangat emosional dan jauh dari akal sehat. Ketika sang pemimpin menginstruksikan sesuatu yang hal negatif, bisa dibayangkan akibatnya, fatal. Karena rasio sudah tidak bisa digunakan, yang ada hanya kepercayaan buta, tanpa dasar. Biru bisa jadi merah, kuning bisa disebut hijau. Apa kata sang pemimpin saja. Yang lebih menyedihkan, para pemimpin tersebut seolah menikmati berada dalam kenyataan pengikut yang sangat menanggalkan akal sehat. Bahkan terkesan eksploitatif, memanfaatkan realitas menyedihkan ini. Jadi bukan memberdayakan, tapi malah memperdayakan. Dan sejarah bangsa ini sudah banyak mengisahnya kepemimpinan yang memperdayakan.
Sahabat Berbagi, mari secara sadar kita pilih pemimpin bangsa ini yang akan membawa bangsa ini pada kemajuan di masa depan. Dan itu adalah pemimpin yang sanggup memberdayakan potensi bangsa ini, bukan pemimpin yang memperdayakan. Semoga Alla SWT memberikan petunjuk kepada kita dan juga kepada para calon pemimpin bangsa ini. Amiin.
Selasa, 19 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar