Selasa, 19 Mei 2009
Kepemimpinan yang Memberdayakan vs Memperdayakan
Sahabat Berbagi, Stephen Covey dalam the 8th Habit mendefinisikan kepemimpinan sebagai seni untuk memberdayakan. Dalam manuskripnya tersebut, Covey juga membagi peran kepemimpinan menjadi 4 peran: panutan, perintis, penyelaras, dan pemberdaya. Salah satu indikator pemimpin yang memberdayakan adalah munculnya kegairahan yang luar biasa pada orang-orang yang dipimpinnya, sehingga gairah itu menjadi energi yang memberdayakan potensi yang mereka miliki.
Sahabat Berbagi, saya coba cuplikkan sepenggal kisah wafatnya baginda Nabi Muhammad SAW. Kisah ini bisa dilihat dalam buku Sirah Nabawiyah, karya Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfury. Saat itu, para sahabat terkemuka sangat terpukul mendengar dan mendapatkan kenyataan bahwa sang rasul tercinta, guru, sahabat, pemimpin mereka, Muhammad SAW telah tiada. Ya. para sahabat sangat terpukul. Bahkan, seorang sahabat sekelas Umar bin Khattab mengekspresikan kesedihannya dengan berlebihan. Umar sambil menghunus pedangnya, dengan lantang berkata, “siapa yang mengatakan Muhammad SAW telah meninggal, akan aku penggal kepalanya.”
Sahabat Berbagi, Para sahabat tersebut, termasuk Umar, benar-benar dalam kondisi yang sangat emosional hingga kehilangan akal sehat.
Saat itu hanya sedikit sahabat yang mampu mengendalikan emosinya, salah satunya adalah Abu Bakar Asshiddiq. Khalifah pertama ini kemudian menenangkan Umar dan para sahabat yang begitu emosional dengan berkata, “Barang siapa yang (selama ini) menyembah Muhammad SAW, maka ketahuilah sesungguhnya Muhammad (kini) telah meninggal. Dan barang siapa yang (selama ini) menyembah Allah SWT, maka ketahuilah sesungguhnya Allah SWT akan selama hidup dan tiada akan pernah mati.” Kemudian Abu Bakar Menyitir Al Qur’an Surat Ali Imron ayat 144. Ucapan Abu Bakar ini sontak menyadarkan para sahabat, bahwa mereka salah dan telah terjerumus pada kondisi yang sangat emosional. Kisah yang terjadi pada masa rasulullah SAW itu, menggambarkan bahwa, manusia punya potensi untuk melakukan kultus dan penghambaan kepada sesama. Padahal ini sangat berbahaya. Karena dapat melunturkan nilai-nilai akidah kita sebagai muslim.
******
Dalam konteks kekinian, termasuk di pemilu 2009 yang akan kita jalani ini, kita mendapatkan betapa masih banyak calon pemimpin kita yang terjebak pada upaya mengkultuskan dirinya. Terlebih masyarakat negeri ini yang masih kental budaya patron-klien. Bahkan ada sebuah adagium dalam bahasa jawa yang berbunyi “pejah gesang ndherek” (pengikut hidup-mati). Kondisi ini jelas sangat berbahaya, karena sang pemimpin menjadi sangat berpengaruh, semua perkataannya dipatuhi tanpa reserve. Tak ayal pengikutnya menjadi sangat emosional dan jauh dari akal sehat. Ketika sang pemimpin menginstruksikan sesuatu yang hal negatif, bisa dibayangkan akibatnya, fatal. Karena rasio sudah tidak bisa digunakan, yang ada hanya kepercayaan buta, tanpa dasar. Biru bisa jadi merah, kuning bisa disebut hijau. Apa kata sang pemimpin saja. Yang lebih menyedihkan, para pemimpin tersebut seolah menikmati berada dalam kenyataan pengikut yang sangat menanggalkan akal sehat. Bahkan terkesan eksploitatif, memanfaatkan realitas menyedihkan ini. Jadi bukan memberdayakan, tapi malah memperdayakan. Dan sejarah bangsa ini sudah banyak mengisahnya kepemimpinan yang memperdayakan.
Sahabat Berbagi, mari secara sadar kita pilih pemimpin bangsa ini yang akan membawa bangsa ini pada kemajuan di masa depan. Dan itu adalah pemimpin yang sanggup memberdayakan potensi bangsa ini, bukan pemimpin yang memperdayakan. Semoga Alla SWT memberikan petunjuk kepada kita dan juga kepada para calon pemimpin bangsa ini. Amiin.
Pendidikan yang Memb[p]erdayakan?
Sahabat Berbagi yang luar biasa, apa kabar Anda semua? Semoga rahmat dan karunia Allah SWT senantiasa tercurah pada kita. Amin.
Sahabat Berbagi, di bulan-bulan ini, para orang tua yang memiliki anak yang bersekolah formal dan duduk di kelas akhir di masing-masing jenjang pendidikan (dasar, menengah, atas) tentu tengah berada dalam kondisi harap-harap cemas. Detak jantung pun serasa lebih cepat dari biasanya. Ya. bulan April-Mei-Juni memang identik dengan masa akhir studi berupa ujian akhir. Dan sejak beberapa tahun belakangan, pemerintah melalui departemen pendidikan telah membuat sebuah terobosan berupa ujian akhir yang distandarkan secara nasional.
Sejatinya, tidak ada yang salah dengan upaya membuat standarisasi pendidikan nasional. Akan tetapi, realitas yang kini terjadi adalah kesan bahwa Ujian Nasional (UN) menjadi momok menakutkan bagi siswa, dan sudah barang tentu orang tua. Buktinya, banyak orang tua siswa yang resah kala UN menjelang. Belum lagi fenomena siswa yang ‘tiba-tiba’ menjadi rajin mengasah spiritualnya dengan kegiatan doa bersama, istighotsah, dan lain sebagainya. Saking khawatirnya para orang tua, bahkan sampai ada yang memproteksi, secara berlebihan, aktivitas anak jelang pelaksanaan UN; tidak boleh keluar rumah, nonton tivi, dan sebagainya. Suasana ‘mencekam’ yang jauh dari kondusif untuk menumbuhsuburkan potensi siswa tersebut. Bahkan tidak sedikit yang mengatakan bahwa konsep UN tidak adil, karena seolah menafikan proses belajar siswa selama bertahun-tahun, yang hanya ditentukan oleh masa 3 hari ujian. Tak ayal UN pun menjadi perbincangan hangat dan perdebatan sengit.
Sahabat Berbagi, sejatinya, kalau kita mau mengkaji hakikat pendidikan jelas bahwa model pendidikan yang saat ini berjalan di negeri kita adalah pendidikan yang sangat mengabaikan sisi keragaman potensi siswa. Standarisasi yang terjadi lebih pada pengkerdilan potensi siswa. Alih-alih memberdayakan potensi siswa, yang terjadi malah memperdayakan. Sungguh naif.
Belum lagi kalau mau ditilik dari perspektif anak. Saat ini anak lebih sering dijadikan obyek, ketimbang subyek pendidikan. Di setiap jenjang pendidikan anak nyaris tidak dilibatkan sama sekali dalam pemilihan sekolah. Tak jarang sampai pilihan kegiatan ekstra kurikuler pun jadi domain dominan orang tua. Jadilah anak “hidup” untuk “sekolah”. Pagi, sekolah formal (fullday), sore ikut LBB, Malam kursus ketrampilan. Terbayang penat dan jenuhnya anak dengan aktivitas harian, yang sejatinya, kalau boleh memilih mereka akan memilih lebih banyak di rumah, bermain dengan kawan-kawan sebayanya. Belum lagi ketika masa ujian sekolah, baik ujian tengah semester ataupun ujian akhir. Anak lebih banyak dituntut untuk ‘prestasi akademik’ oleh kita, orang tuanya. Harus dapat nilai A lah, padahal itu hanya nilai artifisial yang kadang tidak ada korelasinya sama sekali dengan nilai sejati dalam kehidupan.
Sahabat Berbagi, itu mengapa terkadang yang terjadi adalah jebakan nilai-nilai artifisial tersebut. Anak tidak diajari untuk memahai hakikat nilai, mereka hanya sibuk mengejar angka-angka tanpa memahai makna. Ini sungguh menyedihkan. Karena buntutnya, generasi masa depan bangsa kita hanya generasi yang berorientasi pada nilai-nilai palsu dan buatan.
Sahabat Berbagi, mari kita renungkan bersama, adakah kita termasuk orang tua yang terjebak dalam tuntutan nilai-nilai palsu tadi? Mari introspeksi diri, demi generasi masa depan bangsa yang lebih berdaya.
Wallahu a’lam bisshowwab.
