Kamis, 19 Februari 2009

Ponari dan Akal Sehat

Sahabat berbagi, tentu anda semua pernah mendengar nama Ponari. Ya. Bocah berusia 10 tahun dari Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang, mendadak terkenal karena ia memiliki sebuah batu, konon berupa kepala belut, yang dipercayai mampu menyembuhkan aneka macam penyakit. Dan masyarakat pun berbondong-bondong, meski harus berjejalan mendatangi tempat Ponari praktek. 4 orang pun tewas menjadi korban saat berjejalan antre praktek si dukun cilik. Astaghfirullah.

Sahabat berbagi, kadang realitas seperti diatas, bagi sebagian kita yang relatif terdidik, akan terasa menggelikan serta heran. Kok bisa dijaman serba modern seperti saat ini, masih saja orang percaya klenik. Bagi sebagaian masyarakat yang relijius juga mungkin akan mengelus dada melihat fenomena kekufuran itu. Tapi itu fakta yang terjadi. Dan itulah realitas masyarakat kita

Ada sejumlah analisis yang bisa dikemukakan. Pertama, kejadian itu akibat rendahnya tingkat pendidikan. Karena minimnya pendidikan, maka mereka mudah diperdaya oleh hal-hal klenik yang tidak masuk akal sehat. Bagaimana mungkin sebuah batu bisa menyembuhkan penyakit, hanya dengan cara mencelupkannya ke dalam air? Tentu dalam hal ini kita tidak mempertentangkan kehendak yang Maha kuasa. “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka jadilah ia (QS. Yaasin: 82). Namun dalam kasus Ponari para ulama, termasuk MUI mengindikasikan bahwa praktek Ponari termasuk bentuk klenik dan menjurus kepada pengkultusan dan kemusyrikan (Surabaya Post, 16/2).

Kedua, akibat rendahnya tingkat ekonomi. Ya, karena tingkat ekonomi yang rendah, masyarakat mencari segala cara instan untuk mencari uang, sekaligus menghindari pengeluaran yang banyak, alias ngirit. Tak ada akar, rotan pun jadi. Tak ada dokter, dukun pun jadi. Mungkin itu falsafah sederhananya. Pihak Ponari, baik keluarga maupun tetangga sekitar yang dalam hal ini turut “diuntungkan”, tentu melihat ini sebagai sumber ekonomi yang mesti dipertahankan. Demikian halnya pihak pasien, yang berharap si dukun cilik tetap berpraktek, karena murah dan berkhasiat. Artinya ada suply and demand. Klop.

Ketiga, ada semacam pembodohan masyarakat serta pengeksploitasian anak. Ya, pembodohan berupa pengobatan klenik, yang jelas tidak masuk akal, dan disaat yang sama eksploitasi pada Ponari yang sampai mengorbankan sekolah dan fisiknya. Tak heran, Komnas Anak yang dipimpin Kak Seto juga getol melakukan advokasi terhadap kasus ini.

Ketiga poin analisis di atas merupakan fenomena khas negara dunia ketiga yang kebanyakan masyarakatnya masih terbelakang dari sisi pendidikan dan ekonomi. Singkat kata, fenomena Ponari merupakan salah satu bentuk akibat dari kemiskinan yang terus-menerus. Tentu kita tidak berharap kondisi (kemiskinan) yang melanda masyarakat negeri ini, tidak terus bergerak menjadi kefakiran. Karena kefakiran ekonomi, berpotensi menghadirkan kekufuran. Hal ini telah disinyalir oleh Rasulullah SAW, “kaada al faqru ayyakuuna kufran”, bahwa kefakiran bisa mendekatkan kita pada kekufuran. Na’udzubillah min dzaalika.

Sahabat berbagi, agar kekhawatiran kita akan terjadinya kekufuran akibat kefakiran dan kemiskinan tidak terjadi, maka tentu kita mesti saling membantu satu dengan lainnya. Saling memberi, baik bantuan materi dan imateri. Termasuk saling mengingatkan dan menasehati kepada kebaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar