Sahabat berbagi, perkenankan lah saya untuk sharing sebuah pengalaman memilukan. Di suatu Sore, saya bersama istri dan buah hati pertama kami, Azzam, tengah asyik menikmati mentari sore di Taman Bungkul Surabaya. Lumayan ramai. Sampai untuk mencari bangku taman yang kosong saja sulit. Kebanyakan diisi remaja dan muda-mudi cangkrukan. Termasuk yang pacaran. Ya,sebagaimana kita tahu, Taman Bungkul kini berhasil disulap menjadi lokasi wisata keluarga yang murah meriah. Cukup bayar parkir 500 rupiah, bisa menikmati suasana taman kota yang cukup indah tertata. Sesuatu yang langka di Surabaya.
Ketika tengah bercengkrama dengan anak dan istri, dua orang bocah perempuan merapat ke bangku tempat kami duduk. Tangan mereka menengadah. Mulut mereka berucap ”Pak, sak welase”, sembari memasang air muka memelas.
Sungguh saya merasa pedih melihat dua bocah tersebut. Tangan saya segera merogoh uang di kantong. Tapi akal sehat saya menahan untuk tidak sekedar memberi uang, karena itu akan membuat mereka terus ”bahagia” berada di jalan.
Sejurus kemudian, saya pun menarik tangan salah seorang bocah lebih mendekat. Saya pun membuka komunikasi verbal dengan bertanya identitas mereka. Kedua anak tersebut ternyata bersaudara, Kakak-beradik. Khalifah, si Kakak, dan Aprilia si Adik. Khalifah, lebih akrab dipanggil Ifah, bersekolah kelas empat sekolah dasar, sedangkan Aprilia, alias Lia kelas satu. Keduanya bersekolah di sebuah SD Negeri di bilangan Pasar Keputran.
Pembicaraan mengalir terus. Ifah dan Lia bercerita banyak, meskipun dengan nada lirih dan malu-malu, khas bocah seumuran mereka.
”Kenapa kaliah mengemis?” tanya saya pelan.
”Cari uang buat beli buku,” jawab Ifah polos.
Ifah mengatakan Orang tuanya tidak mampu membelikannya buku pelajaran. Ibunya hanya berjualan minuman ringan, biasanya di sekitar Taman Bungkul, adapun Ayahnya lebih banyak menganggur. Dalam sehari, Ifah dan Lia bisa mengumpulkan 8 ribu rupiah hasil mengemis sepulang sekolah. Uang tersebut disetorkan kepada Ibunya untuk disimpan. ”Bila sudah cukup nanti dibelikan buku,” jelas Ifah.
Ada hal yang memilukan hati saya, Ifah dan Lia tidak malu menjadi pengemis. ‘Yang penting dapat uang’ mungkin demikian batin mereka. Itu jalan pintas cari uang yang terpikir dalam benak mereka. Alasan lain mereka tidak malu adalah karena guru dan kawan-kawan sekolah tidak tahu bila mereka berprofesi sebagai pengemis.
Sahabat berbagi, sungguh saya sangat khawatir, jangan-jangan banyak anak-anak kita yang ada di jalanan, yang berpikir praktis dan pintas untuk mencari uang: jadi pengemis. Mereka berpikir dan bertindak seperti itu karena mereka dimiskinkan oleh lingkungan yang tiada memberdayakan potensi mereka. Buntutnya, mereka menjadi generasi yang miskin mentalnya. Lingkungan yang memiskinkan itu dapat berupa keluarga, masyarakat sekitar, bahkan termasuk sekolah mereka. Ya. Semua yang mengajarkan anak-anak kita untuk berpikir instan, mau cari gampangnya saja tanpa usaha, bagi saya itu adalah bentuk pemiskinan mental . Bila mereka dan pola berpikir mereka tidak segera kita selamatkan, maka wajah masa depan negeri ini akan semakin suram.
Sahabat berbagi, bersediakah Anda untuk membantu mereka keluar dari kemiskinan mental? Mari Peduli untuk Berbagi.
