Senin, 23 Februari 2009

Balada Anak Negeri II

Sahabat berbagi, perkenankan lah saya untuk sharing sebuah pengalaman memilukan. Di suatu Sore, saya bersama istri dan buah hati pertama kami, Azzam, tengah asyik menikmati mentari sore di Taman Bungkul Surabaya. Lumayan ramai. Sampai untuk mencari bangku taman yang kosong saja sulit. Kebanyakan diisi remaja dan muda-mudi cangkrukan. Termasuk yang pacaran. Ya,sebagaimana kita tahu, Taman Bungkul kini berhasil disulap menjadi lokasi wisata keluarga yang murah meriah. Cukup bayar parkir 500 rupiah, bisa menikmati suasana taman kota yang cukup indah tertata. Sesuatu yang langka di Surabaya.

Ketika tengah bercengkrama dengan anak dan istri, dua orang bocah perempuan merapat ke bangku tempat kami duduk. Tangan mereka menengadah. Mulut mereka berucap ”Pak, sak welase”, sembari memasang air muka memelas.

Sungguh saya merasa pedih melihat dua bocah tersebut. Tangan saya segera merogoh uang di kantong. Tapi akal sehat saya menahan untuk tidak sekedar memberi uang, karena itu akan membuat mereka terus ”bahagia” berada di jalan.

Sejurus kemudian, saya pun menarik tangan salah seorang bocah lebih mendekat. Saya pun membuka komunikasi verbal dengan bertanya identitas mereka. Kedua anak tersebut ternyata bersaudara, Kakak-beradik. Khalifah, si Kakak, dan Aprilia si Adik. Khalifah, lebih akrab dipanggil Ifah, bersekolah kelas empat sekolah dasar, sedangkan Aprilia, alias Lia kelas satu. Keduanya bersekolah di sebuah SD Negeri di bilangan Pasar Keputran.

Pembicaraan mengalir terus. Ifah dan Lia bercerita banyak, meskipun dengan nada lirih dan malu-malu, khas bocah seumuran mereka.

”Kenapa kaliah mengemis?” tanya saya pelan.

”Cari uang buat beli buku,” jawab Ifah polos.

Ifah mengatakan Orang tuanya tidak mampu membelikannya buku pelajaran. Ibunya hanya berjualan minuman ringan, biasanya di sekitar Taman Bungkul, adapun Ayahnya lebih banyak menganggur. Dalam sehari, Ifah dan Lia bisa mengumpulkan 8 ribu rupiah hasil mengemis sepulang sekolah. Uang tersebut disetorkan kepada Ibunya untuk disimpan. ”Bila sudah cukup nanti dibelikan buku,” jelas Ifah.

Ada hal yang memilukan hati saya, Ifah dan Lia tidak malu menjadi pengemis. Yang penting dapat uang mungkin demikian batin mereka. Itu jalan pintas cari uang yang terpikir dalam benak mereka. Alasan lain mereka tidak malu adalah karena guru dan kawan-kawan sekolah tidak tahu bila mereka berprofesi sebagai pengemis.

Sahabat berbagi, sungguh saya sangat khawatir, jangan-jangan banyak anak-anak kita yang ada di jalanan, yang berpikir praktis dan pintas untuk mencari uang: jadi pengemis. Mereka berpikir dan bertindak seperti itu karena mereka dimiskinkan oleh lingkungan yang tiada memberdayakan potensi mereka. Buntutnya, mereka menjadi generasi yang miskin mentalnya. Lingkungan yang memiskinkan itu dapat berupa keluarga, masyarakat sekitar, bahkan termasuk sekolah mereka. Ya. Semua yang mengajarkan anak-anak kita untuk berpikir instan, mau cari gampangnya saja tanpa usaha, bagi saya itu adalah bentuk pemiskinan mental . Bila mereka dan pola berpikir mereka tidak segera kita selamatkan, maka wajah masa depan negeri ini akan semakin suram.

Sahabat berbagi, bersediakah Anda untuk membantu mereka keluar dari kemiskinan mental? Mari Peduli untuk Berbagi.

Kamis, 19 Februari 2009

Inspirasi Sang Pejuang Tua

Sambil mengunyah makanan, pria tua itu menceritakan pengalamannya. Ya, seabrek pengalaman mengelola sebuah Baitul Maal wa Tamwil (BMT) di bilangan Pondok Bambu Jakarta Timur.

Sobandi, namanya. Pria 70 tahun asal Subang Jawa Barat ini masih sangat bersemangat berbagi kepada sesama, melalui BMT yang dikelolanya.

“Sekarang (BMT) sedang sakit,” kata Sobandi mengawali kisahnya. “Kembali seperti awal dulu. Awalnya modal Cuma tujuh juta setengah, terus berkembang sampai menjadi dua ratus jutaan,” lanjut Sobandi.

“Salah satu pendukung kita (BMT, red) adalah Pak almarhum (Baharudin) Lopa.”

Sejak 2008 lalu, kinerja keuangan BMT-nya terus menurun. Waktu itu, nasabah (peminjam) banyak yang menjadi korban banjir kanal Jakarta. “Mereka kesulitan mengembalikan dana pinjaman. Ya, mau gimana lagi, kita Cuma bisa memahami mereka,” kata Sobandi.

“Kadang ada yang datang, bilang: Saya sebenarnya mau nyetor (pinjaman), tapi kalau saya setor saya nggak bisa belanja. Akhirnya saya bilang, ya sudah dipakai saja dulu,” imbuh Kakek dengan 7 cucu ini.

Ya, Sobandi sangat tidak tega melihat kondisi orang-orang seperti mereka. Ia sendiri sudah memiliki kecukupan secara ekonomi. Ketiga anaknya bekerja di perbankan nasional. “Yang pertama di Bank Mandiri, kedua di Syariah Mandiri, ketiga di BNI 46,” ujarnya Bangga.

Sahabat berbagi, tentu kita berharap ada banyak orang yang gigih ingin berbagi kepada sesama, seperti Sobandi. Di masa tuanya, ia hanya berharap bisa terus berbagi kepada banyak orang.

Ponari dan Akal Sehat

Sahabat berbagi, tentu anda semua pernah mendengar nama Ponari. Ya. Bocah berusia 10 tahun dari Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang, mendadak terkenal karena ia memiliki sebuah batu, konon berupa kepala belut, yang dipercayai mampu menyembuhkan aneka macam penyakit. Dan masyarakat pun berbondong-bondong, meski harus berjejalan mendatangi tempat Ponari praktek. 4 orang pun tewas menjadi korban saat berjejalan antre praktek si dukun cilik. Astaghfirullah.

Sahabat berbagi, kadang realitas seperti diatas, bagi sebagian kita yang relatif terdidik, akan terasa menggelikan serta heran. Kok bisa dijaman serba modern seperti saat ini, masih saja orang percaya klenik. Bagi sebagaian masyarakat yang relijius juga mungkin akan mengelus dada melihat fenomena kekufuran itu. Tapi itu fakta yang terjadi. Dan itulah realitas masyarakat kita

Ada sejumlah analisis yang bisa dikemukakan. Pertama, kejadian itu akibat rendahnya tingkat pendidikan. Karena minimnya pendidikan, maka mereka mudah diperdaya oleh hal-hal klenik yang tidak masuk akal sehat. Bagaimana mungkin sebuah batu bisa menyembuhkan penyakit, hanya dengan cara mencelupkannya ke dalam air? Tentu dalam hal ini kita tidak mempertentangkan kehendak yang Maha kuasa. “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka jadilah ia (QS. Yaasin: 82). Namun dalam kasus Ponari para ulama, termasuk MUI mengindikasikan bahwa praktek Ponari termasuk bentuk klenik dan menjurus kepada pengkultusan dan kemusyrikan (Surabaya Post, 16/2).

Kedua, akibat rendahnya tingkat ekonomi. Ya, karena tingkat ekonomi yang rendah, masyarakat mencari segala cara instan untuk mencari uang, sekaligus menghindari pengeluaran yang banyak, alias ngirit. Tak ada akar, rotan pun jadi. Tak ada dokter, dukun pun jadi. Mungkin itu falsafah sederhananya. Pihak Ponari, baik keluarga maupun tetangga sekitar yang dalam hal ini turut “diuntungkan”, tentu melihat ini sebagai sumber ekonomi yang mesti dipertahankan. Demikian halnya pihak pasien, yang berharap si dukun cilik tetap berpraktek, karena murah dan berkhasiat. Artinya ada suply and demand. Klop.

Ketiga, ada semacam pembodohan masyarakat serta pengeksploitasian anak. Ya, pembodohan berupa pengobatan klenik, yang jelas tidak masuk akal, dan disaat yang sama eksploitasi pada Ponari yang sampai mengorbankan sekolah dan fisiknya. Tak heran, Komnas Anak yang dipimpin Kak Seto juga getol melakukan advokasi terhadap kasus ini.

Ketiga poin analisis di atas merupakan fenomena khas negara dunia ketiga yang kebanyakan masyarakatnya masih terbelakang dari sisi pendidikan dan ekonomi. Singkat kata, fenomena Ponari merupakan salah satu bentuk akibat dari kemiskinan yang terus-menerus. Tentu kita tidak berharap kondisi (kemiskinan) yang melanda masyarakat negeri ini, tidak terus bergerak menjadi kefakiran. Karena kefakiran ekonomi, berpotensi menghadirkan kekufuran. Hal ini telah disinyalir oleh Rasulullah SAW, “kaada al faqru ayyakuuna kufran”, bahwa kefakiran bisa mendekatkan kita pada kekufuran. Na’udzubillah min dzaalika.

Sahabat berbagi, agar kekhawatiran kita akan terjadinya kekufuran akibat kefakiran dan kemiskinan tidak terjadi, maka tentu kita mesti saling membantu satu dengan lainnya. Saling memberi, baik bantuan materi dan imateri. Termasuk saling mengingatkan dan menasehati kepada kebaikan.