Senin, 26 Januari 2009

Energi Kepahlawanan

Sahabat Berbagi, beberapa waktu terakhir, wacana publik negeri ini sempat dihiruk-pikukkan dengan pembahasan seputar kepahlawanan. Mulai yang paling mendasar, definisi pahlawan, hingga penganugerahan gelar kepahlawanan. Pro-kontra wacana tersebut bahkan menjurus pada saling klaim yang bisa berujung negatif, karena mulai dipolitisasi.

Akan tetapi, rasanya tepat memang bila kita membicarakan kepahlawan, mengingat negeri kita saat ini tengah membutuhkan energi kepahlawanan dalam mengarungi problematika kehidupan yang seolah tiada berujung. Ya, kita membutuhkan banyak energi kepahlawanan yang membuat kita senantiasa memiliki harapan untuk hidup di masa depan. Keluar dari keterpurukan seperti saat ini.

Berdiskusi seputar kepahlawanan, tentu tidak bisa lepas dari istilah-istilah berikut: pengorbanan, keberanian, kerja keras luar biasa, harapan, ketulusan, dan kepedulian. Anis Matta, penulis Buku “Mencari Pahlawan Indonesia”(2001) mendefinisikan Pahlawan adalah orang yang mengubah tantangan menjadi peluang, kelemahan menjadi kekuatan, kecemasan menjadi harapan, ketakutan menjadi keberanian, krisis menjadi berkah.

Oleh sebab itu, ia mengatakan pahlawan itu selalu penuh harapan, di saat virus keputusasaan mematikan semangat hidup orang lain. Mereka selalu mengetahui bagaimana mempertahankan vitalitas, bagaimana melawan ketakutan-ketakutan, bagaimana mempertahankan harapan di hadapan keputusasaan, bagaimana melampaui dorongan untuk menyerah dan pasrah di saat kelemahan mendera jiwa mereka.

Konsepsi senada disampaikan oleh Sayyid Qutb, salah seorang pemikir ulung abad 20. “Orang yang hidup dan berpikir untuk (kemaslahatan) orang banyak, maka ia akan hidup sebagai orang besar, dan (kelak) mati sebagai orang besar. Sedangkan orang yang hidup dan berpikir hanya untuk dirinya, ia akan hidup sebagai orang kerdil dan (kelak) mati sebagai orang kerdil. Itulah definisi kepahlawanan ala Sayyid Qutb.

Sahabat Berbagi, sejatinya, bila menilik dari definisi di atas, maka sangat mungkin ada banyak orang yang memiliki kadar kepahlawanan, dan berpeluang untuk menjadi pahlawan. Meskipun menjadi pahlawan bukanlah sebuah hal yang mesti dicita-citakan, dalam artian agar dipuji, dikenang, bahkan dikultuskan atau diberi anugerah kepahlawanan, dan tetek bengek lainnya. Seorang ayah yang bekerja secara luar biasa dalam mencari nafkah, adalah pahlawan bagi keluarganya; anak dan istrinya. Seorang petani yang secara luar biasa menanami sawah sehingga ketersediaan beras sebagai pangan utama negeri ini terjamin, jelas merupakan pahlawan bagi kita semua yang menikmati pangan beras. Begitu juga para nelayan, ibu rumah tangga, pengusaha, hingga abdi negara. Semua pahlawan. Syaratnya apa? Selama mereka memberikan kemanfaatan dan kontribusi positif bagi orang banyak, mereka cukup layak disebut pahlawan. Ya. Selama mereka terus peduli untuk berbagi kepada sesama, mereka adalah pahlawan. Tentu pahlawan dalam skala tertentu. Dan bukan kah sang Rasul Mulia, Muhammad SAW mengajarkan kita dengan sabdanya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang banyak.”

Sahabat Berbagi, mari pancarkan selalu energi kepahlawanan diantara kita; energi peduli untuk berbagi. Agar terpancar selalu semangat, optimisme dan kebahagiaan diantara kita. Dan agar umat dan bangsa ini bangkit dari keterpurukan dan kembali berjaya di masa mendatang. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar