Senin, 26 Januari 2009

Balada Palestina

Sahabat Berbagi, apa kabar Anda semua? Semoga karunia Allah SWT senantiasa tercurah pada kita. Tak lupa kita panjatkan pula doa bagi saudara-saudara kita di Palestina, yang kini tengah menghadapi kebiadaban agresor dunia bernama Israel la’natullah alaih.

Sahabat Berbagi, saat itu, Ahad dini hari tertanggal 18 Januari 2009 pukul 01.55 WIB, keheningan malam di sebuah desa dipecahkan oleh tangis bahagia seorang bayi mungil. Ya. Bayi tersebut jelas menangis bahagia karena dapat bertemu dengan ayah-bundanya, dan juga orang-orang yang dikasihi serta mengasihinya. Bayi mungil tersebut, Alif Putra Wahyu, jelas anak yang beruntung. Beruntung karena ia dikelilingi oleh kedamaian.

Kondisi bertolakbelakang terjadi di negeri seberang sana, di pesisir Laut Merah. Di kota Gaza, bayi-bayi sebayanya banyak yang tidak seberuntung Alif. Mereka terlahir diantara desingan peluru dan dentuman bom. Tak sedikit bahkan yang terlahir yatim. Ya. Bayi-bayi di Gaza Palestina tiada memiliki kebahagiaan yang dirasakan Alif dan kebanyakan bayi di negeri ini. Mereka tidak dikelilingi oleh kedamaian.

Terlebih belakangan ini, saat aksi teror zionis Israel semakin menunjukkan kebiadabannya. Dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, lebih dari seribu orang tewas menjadi korban keberingasan anak buah Ehud Olmert. Ribuan lainnya terluka, dan ratusan ribu lainnya sengsara di kamp-kamp pengungsian. Teriknya mentari di siang hari dan dinginnya udara malam, tanpa makanan dan air bersih, hanya berselimutkan duka-nestapa, menjadi hal yang biasa. Tiada tempat yang aman, apalagi nyaman di Gaza. Setiap detiknya, jutaan peluru diberondongkan dari moncong-moncong senapan serbu Israel. Laiknya malaikat maut yang siap menjemput ajal siapa saja tanpa pandang bulu; laki atau perempuan, dewasa atau anak, tua atau muda, termasuk para bayi yang masih merah seperti Alif. Mereka seolah tidak memiliki hak untuk hidup. Suatu hak yang sangat asasi.

Ironi memang. Di saat banyak negara mengkampanyekan Hak Asasi Manusia (HAM) dan supremasi hukum, terjadi sebuah pembantaian dan pembasmian atas satu bangsa (genosida). Ini jelas kejahatan kemanusiaan – yang atas dasar apapun - tiada dapat ditolelir. Sekali lagi ironinya, negara-negara besar, Amerika dan Eropa, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) seolah tidak mampu menghentikan aksi brutal Israel.

Buktinya, resolusi PBB digagalkan oleh veto sang negara Adidaya, Amerika Serikat. Sebuah negara yang senantiasa menjadi polisi dunia (globocop), tapi kini diam seribu bahasa. Kecamanan bangsa dan masyarakat dari berbagai penjuru dunia, hanya dianggap angin lalu oleh zionis Israel. Disinilah letak ketidakadilan dunia. Ketidakadilan yang tiada pernah mampu menjawab pertanyaan bayi-bayi Palestina; kemanakah pergi orang-orang terkasihnya. Sungguh memilukan.

Sahabat Berbagi, Palestina memang telah takdirkan sebagai bumi para syuhada’. Tempat dimana Allah subhaanahu wata’ala menguji keimanan para hamba-Nya. Keimanan yang dilandasi kemurniaan niat hanya mengharap ridha-Nya. Dari sana pula keadilan sejati akan muncul. Keadilan yang menghadirkan kesejahteraan serta kedamaian hakiki. Sehingga bayi-bayi Gaza kelak lahir dikelilingi rasa damai, seperti yang dirasakan Alif.

Khaibar-khaibar yaa yaahuud, jaisyu muhammad sawfa ya’uud.

Energi Kepahlawanan

Sahabat Berbagi, beberapa waktu terakhir, wacana publik negeri ini sempat dihiruk-pikukkan dengan pembahasan seputar kepahlawanan. Mulai yang paling mendasar, definisi pahlawan, hingga penganugerahan gelar kepahlawanan. Pro-kontra wacana tersebut bahkan menjurus pada saling klaim yang bisa berujung negatif, karena mulai dipolitisasi.

Akan tetapi, rasanya tepat memang bila kita membicarakan kepahlawan, mengingat negeri kita saat ini tengah membutuhkan energi kepahlawanan dalam mengarungi problematika kehidupan yang seolah tiada berujung. Ya, kita membutuhkan banyak energi kepahlawanan yang membuat kita senantiasa memiliki harapan untuk hidup di masa depan. Keluar dari keterpurukan seperti saat ini.

Berdiskusi seputar kepahlawanan, tentu tidak bisa lepas dari istilah-istilah berikut: pengorbanan, keberanian, kerja keras luar biasa, harapan, ketulusan, dan kepedulian. Anis Matta, penulis Buku “Mencari Pahlawan Indonesia”(2001) mendefinisikan Pahlawan adalah orang yang mengubah tantangan menjadi peluang, kelemahan menjadi kekuatan, kecemasan menjadi harapan, ketakutan menjadi keberanian, krisis menjadi berkah.

Oleh sebab itu, ia mengatakan pahlawan itu selalu penuh harapan, di saat virus keputusasaan mematikan semangat hidup orang lain. Mereka selalu mengetahui bagaimana mempertahankan vitalitas, bagaimana melawan ketakutan-ketakutan, bagaimana mempertahankan harapan di hadapan keputusasaan, bagaimana melampaui dorongan untuk menyerah dan pasrah di saat kelemahan mendera jiwa mereka.

Konsepsi senada disampaikan oleh Sayyid Qutb, salah seorang pemikir ulung abad 20. “Orang yang hidup dan berpikir untuk (kemaslahatan) orang banyak, maka ia akan hidup sebagai orang besar, dan (kelak) mati sebagai orang besar. Sedangkan orang yang hidup dan berpikir hanya untuk dirinya, ia akan hidup sebagai orang kerdil dan (kelak) mati sebagai orang kerdil. Itulah definisi kepahlawanan ala Sayyid Qutb.

Sahabat Berbagi, sejatinya, bila menilik dari definisi di atas, maka sangat mungkin ada banyak orang yang memiliki kadar kepahlawanan, dan berpeluang untuk menjadi pahlawan. Meskipun menjadi pahlawan bukanlah sebuah hal yang mesti dicita-citakan, dalam artian agar dipuji, dikenang, bahkan dikultuskan atau diberi anugerah kepahlawanan, dan tetek bengek lainnya. Seorang ayah yang bekerja secara luar biasa dalam mencari nafkah, adalah pahlawan bagi keluarganya; anak dan istrinya. Seorang petani yang secara luar biasa menanami sawah sehingga ketersediaan beras sebagai pangan utama negeri ini terjamin, jelas merupakan pahlawan bagi kita semua yang menikmati pangan beras. Begitu juga para nelayan, ibu rumah tangga, pengusaha, hingga abdi negara. Semua pahlawan. Syaratnya apa? Selama mereka memberikan kemanfaatan dan kontribusi positif bagi orang banyak, mereka cukup layak disebut pahlawan. Ya. Selama mereka terus peduli untuk berbagi kepada sesama, mereka adalah pahlawan. Tentu pahlawan dalam skala tertentu. Dan bukan kah sang Rasul Mulia, Muhammad SAW mengajarkan kita dengan sabdanya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang banyak.”

Sahabat Berbagi, mari pancarkan selalu energi kepahlawanan diantara kita; energi peduli untuk berbagi. Agar terpancar selalu semangat, optimisme dan kebahagiaan diantara kita. Dan agar umat dan bangsa ini bangkit dari keterpurukan dan kembali berjaya di masa mendatang. Semoga.

Balada Anak Negeri

Malam itu, Senin (21/5), sekitar pukul 10, saya dan istri tengah mampir di sebuah Apotik di daerah Karang Menjangan (Karmen) Surabaya untuk membeli obat. Ketika tengah menanti racikan obat, tiba-tiba saya dan istri dikejutkan oleh sesosok bocah kecil dengan pakaian sobek, compang-camping dan kaki penuh debu jalanan, yang muncul dari balik pintu Apotik. “Mas, sak welas’e,” iba bocah itu sambil menadahkan tangannya. Saya dan istri saling berpandangan mata, dan sejurus kemudian saya dekati bocah itu. Perbincangan pun terjadi.
Rokhim, namanya. Bocah cilik yang mengaku berusia 9 tahun dan duduk di kelas dua SD Kajati itu, setiap sore hari mesti berjalan kaki dari tempat tinggalnya di bilangan Makam Rangkah sampai Karang Menjangan, untuk mengais rejeki. Ya, bocah itu mengemis. Bersama adiknya, Pipin (8 tahun), Rokhim kecil menyusuri keramaian kota sambil mengharap belas kasihan.
“Kenapa jadi pengemis?” sergah saya. Rokhim kecil kebingungan mencari jawaban. Ketika saya tanya ulang, ia pun menjawab lesu, “Dikongkon (disuruh) Bapak”.
“Sehari dapet uang berapa?” tanya saya menyelidik. Sepengetahuan saya, pengemis kini menjadi profesi yang ”menjanjikan”. Hanya bermodal ”muka tebal” sang pengemis bisa mengumpulkan puluhan ribu rupiah. Tebakan saya tidak salah. ”Dua puluh ribu, Mas,” jawab Rokhim polos. Dia juga menyebutkan penghasilan Bapaknya, Muslih, sekitar 20 ribu, dan Ibunya, Sunarti 30 ribu. Kalau ditotal mencapai 70 ribu rupiah perhari. Penghasilan yang cukup besar bukan?
”Kalau kamu pulang nggak bawa uang, bagaimana?” lanjut saya. ”Ya, diseneni (dimarahi) Bapak, Mas,” kata bocah itu lirih.
Rokhim bertutur, ia sering dipukul bapaknya menggunakan sandal. Bapaknya, Muslih, adalah seorang pemulung asal Sampang Madura. Ibunya, Sunarti, juga asal Madura, punya profesi yang sama dengan Rokhim, pengemis. Rokhim mengaku punya empat orang adik. Pipin (8 tahun), biasa mengemis bersama Rokhim di Karmen. Evi (7 tahun) dan Imam (6 tahun), biasa bersama sang Ibu beroperasi di bilangan Pacar Kembang. Fitri (1 bulan) dititip di Mbahnya.
”Cita-citamu apa?” tanya saya. ”Mau jadi dokter,” jawabnya tersipu malu. Ketika saya tanya bagaimana cara dia mengejar cita-citanya, ia hanya angkat bahu, tanda tak tahu.
Saya, dan juga mungkin Anda, termasuk orang ’gregetan’ melihat fenomena pengemis. Apalagi yang mengeksploitasi anak. Kadang saya berpikir, bila saya beri dia uang, dia akan berpikir bahwa ini (mengemis) adalah cara yang baik untuk mencari rejeki. Tapi bila tak diberi, rasa iba kadang menggelayut.
”Kamu sudah makan?” tanya saya. ”Belum,” jawabnya singkat. Biasanya ia makan larut malam sepulang mengemis.
”Berapa kamu dikasih sangu oleh Bapak?”
”Seribu” jawabnya.
Batin saya semakin kesal dengan orang tuanya. Bayangkan, sehari dapat 20 ribu, hanya dikasih sangu seribu rupiah. Sungguh eksploitasi keji. Akhirnya, saya belikan Rokhim kecil nasi goreng sebagai ganti uang. Menurut saya, ia lebih baik dari pada saya beri dia uang yang nantinya disetor kepada sang Bapak, Muslih.
*****Pembaca, Rokhim dan adik-adiknya merupakan potret realitas Balada Anak Negeri yang terlantar akibat perlakuan salah dari orang tua. Masih banyak Rokhim-rokhim lainnya di penjuru negeri yang mengalami perlakuan serupa dari orang tua. Mereka bertebaran di jalan. Ada yang jadi pemulung, pengemis, pengamen, dan lain sebagainya. Masa depan mereka pun terancam. Akan kah kita berdiam diri? Mari, Peduli untuk Berbagi.