Sahabat Berbagi, apa kabar Anda semua? Semoga karunia Allah SWT senantiasa tercurah pada kita. Tak lupa kita panjatkan pula doa bagi saudara-saudara kita di Palestina, yang kini tengah menghadapi kebiadaban agresor dunia bernama Israel la’natullah alaih.
Sahabat Berbagi, saat itu, Ahad dini hari tertanggal 18 Januari 2009 pukul 01.55 WIB, keheningan malam di sebuah desa dipecahkan oleh tangis bahagia seorang bayi mungil. Ya. Bayi tersebut jelas menangis bahagia karena dapat bertemu dengan ayah-bundanya, dan juga orang-orang yang dikasihi serta mengasihinya. Bayi mungil tersebut, Alif Putra Wahyu, jelas anak yang beruntung. Beruntung karena ia dikelilingi oleh kedamaian.
Kondisi bertolakbelakang terjadi di negeri seberang sana, di pesisir Laut Merah. Di kota Gaza, bayi-bayi sebayanya banyak yang tidak seberuntung Alif. Mereka terlahir diantara desingan peluru dan dentuman bom. Tak sedikit bahkan yang terlahir yatim. Ya. Bayi-bayi di Gaza Palestina tiada memiliki kebahagiaan yang dirasakan Alif dan kebanyakan bayi di negeri ini. Mereka tidak dikelilingi oleh kedamaian.
Terlebih belakangan ini, saat aksi teror zionis Israel semakin menunjukkan kebiadabannya. Dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, lebih dari seribu orang tewas menjadi korban keberingasan anak buah Ehud Olmert. Ribuan lainnya terluka, dan ratusan ribu lainnya sengsara di kamp-kamp pengungsian. Teriknya mentari di siang hari dan dinginnya udara malam, tanpa makanan dan air bersih, hanya berselimutkan duka-nestapa, menjadi hal yang biasa. Tiada tempat yang aman, apalagi nyaman di Gaza. Setiap detiknya, jutaan peluru diberondongkan dari moncong-moncong senapan serbu Israel. Laiknya malaikat maut yang siap menjemput ajal siapa saja tanpa pandang bulu; laki atau perempuan, dewasa atau anak, tua atau muda, termasuk para bayi yang masih merah seperti Alif. Mereka seolah tidak memiliki hak untuk hidup. Suatu hak yang sangat asasi.
Ironi memang. Di saat banyak negara mengkampanyekan Hak Asasi Manusia (HAM) dan supremasi hukum, terjadi sebuah pembantaian dan pembasmian atas satu bangsa (genosida). Ini jelas kejahatan kemanusiaan – yang atas dasar apapun - tiada dapat ditolelir. Sekali lagi ironinya, negara-negara besar, Amerika dan Eropa, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) seolah tidak mampu menghentikan aksi brutal Israel.
Buktinya, resolusi PBB digagalkan oleh veto sang negara Adidaya, Amerika Serikat. Sebuah negara yang senantiasa menjadi polisi dunia (globocop), tapi kini diam seribu bahasa. Kecamanan bangsa dan masyarakat dari berbagai penjuru dunia, hanya dianggap angin lalu oleh zionis Israel. Disinilah letak ketidakadilan dunia. Ketidakadilan yang tiada pernah mampu menjawab pertanyaan bayi-bayi Palestina; kemanakah pergi orang-orang terkasihnya. Sungguh memilukan.
Sahabat Berbagi, Palestina memang telah takdirkan sebagai bumi para syuhada’. Tempat dimana Allah subhaanahu wata’ala menguji keimanan para hamba-Nya. Keimanan yang dilandasi kemurniaan niat hanya mengharap ridha-Nya. Dari sana pula keadilan sejati akan muncul. Keadilan yang menghadirkan kesejahteraan serta kedamaian hakiki. Sehingga bayi-bayi Gaza kelak lahir dikelilingi rasa damai, seperti yang dirasakan Alif.
